Mencintai dan Mengagungkan Sunnah
Rasulullah
╰☆╮
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم ╰★╮
-Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh-
Sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari
Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ucapan, perbuatan maupun
penetapan beliau, memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam, karena
Allah Ta’ala menjadikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai
penjelas dan penjabar dari Al Qur’an yang mulia, yang merupakan sumber utama
syariat Islam. Oleh karena itu, tanpa memahami sunnah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan baik, seseorang tidak mungkin dapat menjalankan agama
Islam dengan benar.
Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْزَلْنَا
إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ
يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu
al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan
kepada mereka (dari Allah Ta’ala), supaya mereka memikirkan.” (Qs. An Nahl: 44)
Ketika Ummul mu’minin ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau menjawab, “Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam adalah Al Qur’an.” (HSR Muslim no. 746). Ini berarti
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sempurna
dalam memahami dan mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya dan
menghiasi diri dengan adab-adabnya. (Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam
kitab Syarh Shahih Muslim 6/26). Maka orang yang paling sempurna dalam memahami
dan mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah yang
paling sempurna dalam berpegang teguh dan mengamalkan Al Qur’an dan agama Islam
secara keseluruhan.
Imam Ahmad bin Hambal –semoga Allah
Ta’ala merahmatinya– berkata, “(Termasuk) landasan (utama) sunnah (syariat
Islam) menurut (pandangan) kami (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) adalah: bahwa sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penafsir dan argumentasi (yang
menjelaskan makna) al-Qur’an.” (Ushuulus Sunnah, hal. 3)
Oleh karena itulah, para ulama Ahlus
Sunnah wal Jama’ah mendefinisikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam sebagai sesuatu yang mencakup syariat Islam secara keseluruhan, baik
ucapan, perbuatan maupun keyakinan. (Lihat Jaami’ul Uluumi wal Hikam, hal. 321)
Imam Abu Muhammad al-Barbahari
berkata, “Ketahuilah, bahwa Islam itu adalah sunnah dan sunnah itu dialah
Islam, yang masing-masing dari keduanya tidak akan tegak tanpa ada yang
lainnya.” (Syarhus Sunnah, hal. 59)
➣Arti
Mencintai dan Mengagungkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
Sebenarnya
Allah ‘azza wa jalla berfirman,
قُلْ
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu
dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali
‘Imran: 31)
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan
ayat ini berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi
setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tidak mengikuti
jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang
yang berdusta dalam pengakuan tersebut dalam masalah ini, sampai dia mau
mengikuti syariat dan agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaannya.” (Tafsir Ibnu
Katsir, 1/477)
Imam Al Qadhi ‘Iyadh Al Yahshubi
berkata, “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan
mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, maka berarti
dia tidak dianggap benar dalam kecintaanya dan hanya mengaku-aku (tanpa bukti
nyata). Maka orang yang benar dalam (pengakuan) mencintai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan
tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan
perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta
menghiasi diri dengan adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dalam keadaan
susah maupun senang dan lapang maupun sempit.” (Asy Syifa bi Ta’riifi Huquuqil
Mushthafa, 2/24)
Berdasarkan keterangan di atas,
jelaslah bahwa mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam yang sebenarnya adalah dengan meneladani petunjuk dan sunnah beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan berusaha mempelajari dan mengamalkannya
dengan baik. Dan bukanlah mencintai dan mengagungkan sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah
(yaitu setiap perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri
kepada Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, pen) dengan mengatasnamakan cinta kepada beliau, atau memuji dan
mensifati beliau secara berlebihan, dengan menempatkan beliau melebihi
kedudukan yang telah Allah Ta’ala tempatkan beliau padanya. (Mahabbatur Rasul
bainal Ittibaa’ wal Ibtidaa’, hal. 65-71)
Dalam sebuah hadits shahih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memuji
diriku secara berlebihan dan melampaui batas, sebagaimana orang-orang Nashrani
melampaui batas dalam memuji (Nabi Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku
hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HSR
Al Bukhari no. 3261)
Inilah makna cinta kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dipahami dan diamalkan oleh generasi terbaik
umat ini, para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
berkata, “Tidak ada seorang pun yang paling dicintai oleh para sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Akan tetapi jika mereka melihat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
mereka tidak berdiri (untuk menghormati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam),
karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
membenci perbuatan tersebut.” (HR At Tirmidzi 5/90 dan Ahmad 3/132, dinyatakan
shahih oleh At Tirmidzi dan Syaikh Al Albani)
➣Bagaimana
Menyempurnakan Cinta kepada Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dalam
Diri Kita?
Imam Ibnu Rajab Al Hambali membagi
derajat (tingakatan) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallammenjadi dua tingakatan, yang berarti dengan menyempurnakan dua tingkatan
ini seorang akan memiliki kecintaan yang sempurna kepada sunnah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini merupakan tanda kesempurnaan iman dalam
dirinya.
Dua tingkatan tersebut adalah:
Tingkatan yang fardhu (wajib), yaitu
kecintaan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mengandung
konsekuensi menerima dan mengambil semua petunjuk yang dibawa oleh beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi Allah dengan (penuh rasa) cinta, ridha,
hormat dan patuh, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan (sunnah)
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh. Kemudian mengikuti dengan
baik agama yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan dari Allah,
dengan membenarkan semua berita yang beliau sampaikan, mantaati semua kewajiban
yang beliau perintahkan, meninggalkan semua perbuatan haram yang dilarangnya,
serta menolong dan berjihad (membela) agamanya, sesuai dengan kemampuan unutk
(mengahadapi) orang-orang yang menentangnya. Tingkatan ini harus dipenuhi (oleh
setiap muslim) dan tanpanya keimanan (seseorang) tidak akan sempurna.
Tingkatan fadhl (keutamaan/kemuliaan), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mengandung konsekuensi meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, mengikuti sunnah beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar, dalam tingkah laku, adab (etika), ibadah-ibadah sunnah (anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan keluarga, serta semua adab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna dan akhlak beliau yang suci. Demikian juga memberikan perhatian (besar) untuk memahami sejarah dan perjalanan hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, rasa senang dalam hati dengan mencintai, mengagungkan dan memuliakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, senang mendengarkan ucapan (hadits) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan selalu (mendahulukan) ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas ucapan selain beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sikap zuhud terhadap dunia, mencukupkan diri dengan hidup seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (balasan yang sempurna) di akhirat (kelak)” (Istinyaaqu Nasiimil Unsi min Nafahaati Riyaadhil Qudsi, hal. 34-35)
Tingkatan fadhl (keutamaan/kemuliaan), yaitu kecintaan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mengandung konsekuensi meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik, mengikuti sunnah beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar, dalam tingkah laku, adab (etika), ibadah-ibadah sunnah (anjuran), makan, minum, pakaian, pergaulan yang baik dengan keluarga, serta semua adab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sempurna dan akhlak beliau yang suci. Demikian juga memberikan perhatian (besar) untuk memahami sejarah dan perjalanan hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, rasa senang dalam hati dengan mencintai, mengagungkan dan memuliakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, senang mendengarkan ucapan (hadits) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan selalu (mendahulukan) ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas ucapan selain beliau. Dan termasuk yang paling utama dalam tingkatan ini adalah meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sikap zuhud terhadap dunia, mencukupkan diri dengan hidup seadanya (sederhana) di dunia, dan kecintaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada (balasan yang sempurna) di akhirat (kelak)” (Istinyaaqu Nasiimil Unsi min Nafahaati Riyaadhil Qudsi, hal. 34-35)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar